Mengenal Narkotika

Diperkirakan lebih dari 50.000 metrik ton narkotika segala jenis beredar di dunia setiap tahunnya. Dengan penyalahguna yang mencapai lebih dari 200 juta orang, lebih dari 200 ribu jiwa di antaranya meninggal setiap tahun akibat penyalahgunaan tersebut.

Indonesia juga mengidap “bagian hologram” yang kurang lebih serupa. Diperkirakan lebih dari 10 ribu kg narkotika, segala jenis, beredar di Indonesia setiap tahunnya. Penyalahguna narkotika di negeri ini, setiap tahun diperkirakan sebanyak 2,2% dari seluruh penduduk. Bahkan, BNN terakhir melansir sekitar 3,8% penduduk merupakan penyalahguna narkotika.

Narkotika adalah obat yang menumpulkan rasa sakit serta menyebabkan kantuk. Istilah narkotika pada awalnya digunakan untuk menyebut obat yang dihasilkan dari tanaman opium alias buah candu. Sementara obat penumpul rasa sakit sejenisnya—yang tidak dihasilkan dari opium—disebut psikotropika.

Pengertian awal ini berubah dalam kosakata undang-undang di negara kita. Menurut UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang disebut narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Ada tiga golongan narkotika menurut undang-undang ini, yaitu narkotika golongan I, II, dan III, dengan penyebutan urut dari yang paling berbahaya bagi kesehatan. Opium, bersama ganja, kokain, dan shabu masuk ke dalam narkotika golongan I. Sementara psikotropika, berdasarkan UU nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, merupakan zat psikoaktif selain narkotika. Ada dua golongan psikotropika saat ini, yaitu golongan III dan IV (golongan I dan II sudah dikategorikan sebagai narkotika).

Dunia internasional, melalui United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) sendiri menghindari kerancuan definisi tersebut, dengan menyebut segala jenis narkotika dan psikotropika sebagai drugs saja.

Jenis narkotika secara garis besar ada empat, urutan (GOKA) berdasarkan paling banyak produksi:

  1. Ganja; alias mariyuana (cannabis), disalahgunakan dalam bentuk getah (hashish) dan daunnya. Tumbuh subur di 172 negara di dunia, termasuk Indonesia.
  2. Opium; alias buah candu (papaver), paling sering diolah menjadi heroin/putaw dan morfin. Banyak ditanam di Afghanistan, lalu sisanya di Pakistan, Iran, Laos, Kamboja, dan Thailand.
  3. Kokain; berasal dari tanaman koka yang banyak ditanam di lereng Andes, Amerika Selatan, dan diolah di negara-negara kawasan tersebut, lalu diedarkan oleh yang sering kita dengar sebagai kartel obat bius. Berharga mahal, banyak digemari di Amerika dan Eropa.
  4. Amfetamin; merupakan narkotika sintetis yang karenanya dapat diproduksi secara massal. kantong produksi terbesarnya berada di Asia. Shabu dan ekstasi adalah contoh yang terkenal. Pembuatannya memerlukan penyintesis yang disebut prekursor.

Narkotika yang diperkirakan paling banyak dikonsumsi di Indonesia berturut-turut adalah heroin, ganja daun, shabu, ekstasi, hashish, dan kokain. Dari kesemuanya, heroin dan kokain tidak dapat diproduksi di Indonesia, sehingga dapat dipastikan pasokannya dari luar negeri. Sementara ganja mayoritas dipasok dari dalam negeri, meski pernah pula diselundupkan dari luar negeri. Adapun shabu dan ekstasi dipasok dari dalam (telah ada tempat produksi) dan luar negeri.

 

5 thoughts on “Mengenal Narkotika

  1. herman

    bea cukai..
    pintu / gerbangnya sebuah negara
    jika penjaga gerbangnya sendirian maka disaat dia tertidur akan ada fihak lain yang masuk.
    sehingga beacukai harus memiliki petugas yang bisa menutup waktu 24 jam tanpa tidur… dan memiliki petugas aktif di semua jalur yang ada dimasyarakat… sehingga informasi yang dihasilkan akan dapat dengan mudah di olah sehingga tindakan pun akan dilakukan dengan dateil yang lengkap… selamat bekerja …

    Reply
  2. Pingback: Statistik Narkotika | Bea Cukai Indonesia

  3. steve

    Mau nanya nih, kenapa ganja masuk uud tapi roko engga? Padahal katanya ganja ga terlalu bikin nagih? Kalo roko kan lo kaga roko sehari aja udah kalang kabut?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>